Politik Pilek
Pada zaman dahulu kala ada sebuah kerajaan kecil berpenduduk
hanya sekitar 500 ribu jiwa. Alamnya sangat kaya dengan hasil emas, batu bara,
nikel, kayu dan lautnya cukup luas dengan beraneka ikan dan biota laut lainnya.
Walaupun hanya sebuah kerajaan kecil dengan wilayah
kekuasaan yang tidak begitu luas, tapi kerajaan itu bernama Besar. Kurang jelas
sebab musabab sehingga kerajaan itu dinamakan Besar. Dari sisi Pendapatan Asli
Kerajaan (PAK) tidak terbilang besar.
Kalangan yang disebut cerdik pandai, intelektual atau apapun
sebutannya tidak juga dapat dikategorkan memliki pikira-pikiran besar. Paling
pikiran-pikiran kerdil, itu pun sulitnya mengimplementasikan dalam praktek
nyata.
Eksekutifnya paling berpikir bagaimana diri dan kelompoknya
eksis. Legislatifnya, kalau kepentingannya terusik, maka dia akan vokal sekali.
Matanya merah melotot, lehernya akan kencang seperti kawat dan mulutnya berbusa
seperti rinso. Kalau kepentingannya sudah terakomodir, maka wajahnya jadi
romantis, suaranya akan menjadi merdu dan senyumnya akan berhamburan.
Yudikatifnya ? Yang namanya yudikatif dimanapun dan di zaman
apapun tetap saja sama tugas dan fungsinya, pasti terkait dengan penegakan
hukum. Kala itu, yang bermodal dilindungi, yang kantong kempes disikat. Kalau
istilah sekarang ini, tebang pilih.
Wartawannya ? Seperti sekarang, juga dianggap sebagai pilar
ke empat. Tapi pers kala itu masih sederhana. Paling berita ditulis dengan
tangan kemudian ditempel ditempat-tempat umum. Rupanya dahulu kala sudah ada
juga istilah “pending berita dan membangun bargaining”.
Kala itu, sudah ada juga kelompok penekan, pemerhati atau
apapun istilahnya. Kira-kira kalau di-era sekarang ini, disebut LSM. Kalau
yudkatif dituduh orang tebang pilih, kelompok penekan itu dituduh tebang sorot.
Artinya, walaupun korupsi nampak bagaikan bulan purnama, maka dia pura-pura
tidak melihat, memalingkan wajah, kalau kebetulan orang itu masih keluarganya,
kelompoknya, kliknya, apalagi sama-sama satu bendera partai politik. Dan lagi,
mereka itu, konon katanya kelompok yang pandai mencari kesalahan orang dan
sangat kritis, tapi minim memberikan solusi.
Generasi mudanya seperti apa ? Nampaknya tak ada harapan.
Sudah masuk lumpur budaya hedonis dan instant. Mendambakan kesenangan duniawi,
kesuksesan dan kejayaan, tapi enggan bersusah payah mengeluarkan keringat dan
berjuang. Paling hanya antri minta proyek kecil-kecilan, urus olah raga atau
mendatangkan artis bikin bisnis hiburan. Dukung sana dukung sini sekedar menjaga kepentingan
ekonomi jangka pendek. Tidak berani kritis. Kalau pun kritis berdasarkan
pesanan “sponsor”. Paling dia sudah puas dengan antri manis menunggu jabatan di
organisasi pemuda yang “direstui†pemerintah sambil menunggu percikan
jabatan menteri, anggota parlemen atau minta jatah proyek kecil-kecilan. Maunya
dia minta jabatan, minta posisi menganti yang tua dengan argumentasi bahwa yang
tua sudah lamban.
Rajanya bagaimana ? Nah, itulah yang menjadi pokok
persoalan. Bukankah yang namanya raja adalah penentu maju mundurnya dan hitam
putihnya kerajaan.
Suatu ketika raja sakit. Sebenarnya sakit sang raja hanya
pilek biasa ditambah ada sedikit demam malaria. Tapi, yang sangat mengganggu,
sebab dari tubuh sang raja mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat hidung.
Hanya permaisuri yang berani mengatakan bahwa dari tubuh sang raja mengeluarkan
bau busuk, itu pun mendapat dampratan sang raja.
Tiga tokoh masyarakat dipanggil untuk ditanyai. Tokoh
pertama menghadap, kemudian sang raja bertanya, apakah dari badan saya berbau
busuk ?
”Ampun tuanku. Benar, berbau busuk.” Maka sang raja
memanggil algojo untuk segera mengeksekusi mati orang itu.
Orang kedua menghadap, kemudian raja mengajukan pertanyaan
yang sama seperti kepada orang pertama.
”Ampun tuanku, baginda berbau harum.” Kata orang kedua.
”Bohong kamu.” Sang raja segera memanggil pengawal agar
orang pembohong itu juga dihukum mati.
Menghadap orang ketiga. Raja mengajukan pertanyaan yang
sama.
Sambil menutupi hidung, sesekali batu-batuk kecil, orang itu
menjawab, ampun tuanku, sekali lagi ampun tuanku, hamba menderita pilek
sehingga tidak dapat mencium apa-apa. Akhir cerita, orang ketiga yang pilek itu
selamat dari hukuman sang raja.
Seperti itu kisahnya. Orang pertama sangat jujur, mengatakan
apa adanya. Resikonya hukuman mati. Orang kedua pembohong besar. Berbau busuk,
dikatakan pula berbau harum. Konsekwensinya juga sama, hukuman mati. Yang otak
encer dan sangat cemerlang adalah orang ketiga. Dia tidak mencium apa-apa,
sebab hidungnya tersumbat gara-gara pilek. Mana boleh orang pilek dilarang, kan tidak ada
undang-undangnya. Hanya dia yang selamat dari hukuman mati sang raja.
Mungkin seperti itu gambaran atau perumpamaan manusia zaman
sekarang ini. Kalau jujur seratus persen, merah dikatakan merah, hitam
dikatakan hitam - maka tidak akan eksis. Kalau terlanjur pembohong, sudah nyata
merah dikatakan pula putih, sudah buruk masih disanjung setinggi langit - maka
akan tidak mendapat tempat.
Yang berjaya adalah mereka yang mengamalkan peribahasa
bersifat “sudah tahu tapi berlagak pura-pura tidak tahu”.
Sudah nyata baunya busuk, berlagak tidak mencium apa-apa.
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.***
Kesimpulan : Jangan campur adukan haq/kebenaran dan
bathil/kebathilan,padahal kita mengetahui yang haq itu, jangan sembunyikan
kebenaran itu.
Saran: katakan lah suatu hal dengan jujur dengan resiko
apapun