Thursday, 27 December 2012

Demam Korea, Alergi Budaya Lokal

Tema : Penduduk, Masyarakat dan kebudayaan


Di milenium ke dua ini, gaung film bollywood dan telenovela tidak lagi terdengar di masyarakat kita. Tapi bukan berarti masyarakat kita telah terbebas dari fenomena semacam itu. Karena kini fenomena serupa kembali menjangkiti masyarakat kita. Full House, Endless Love, Boys Before Flower, Dream High, remaja mana yang belum menonton drama-drama itu? Suju, SNSD, Shinee, remaja mana pula yang belum pernah mendengar nama boyband dan girlband itu?
Ya, akan susah mencari remaja yang tidak tahu menahu tentang produk-produk budaya Korea tersebut. Karena, di abad ke 20 ini masyarakat indonesia kembali menjadi objek ekspansi budaya negara asing. Bukan lagi India atau negara-negara Amerika Latin, melainkan tetangga negara kita, yakni Korea Selatan.
Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena demam korea yang sedang mengglobal. Demam Korea atau lazim disebut Korean Wave merupakan fenomena menarik di kalangan masyarakat Indonesia sekitar 10 tahun terakhir ini. Korean Wave mulai muncul di Indonesia sekitar tahun 2000-an lewat sebuah drama Korea berjudul Endless Love yang ditayangkan di salah satu televisi swasta negeri ini. Masyarakat indonesia yang waktu itu sedang mengalami kejenuhan dengan sinetron dalam negeri yang membosankan, menyambut dengan antusias drama Korea ber-genre melankolis ini. Kesuksesan Endless Love kemudian diikuti dengan rentetan judul drama Korea yang juga sukses menarik perhatian masyarakat Indonesia. Sebut saja, Full House, Winter Sonata, My Sassy Girl, Princes Hours, dan yang masih fresh yakni Dream High.
Ketertarikan yang massive masyarakat Indonesia terutama kalangan remaja terhadap produk budaya Korea ini ternyata tidak berhenti sampai di situ. Drama Korea yang laris manis itu juga menyajikan lagu-lagu Korea sebagai backsound yang tidak kalah memesona pemirsa drama Korea. Demam Korea pun merambat pada ranah selera musik. Musik Korea mendadak begitu digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama  para remaja yang juga menggilai drama Korea.
Sadar bahwa musik mereka begitu dipuja oleh para remaja negara lain, para pegiat industri musik Korea pun menyusun proyek yang sangat cemerlang. Mereka memperkenalkan apa yang disebut dengan Boy Band dan Girl Band Korea pada masyarakat global, termasuk di Indonesia. Boy Band dan Girl Band yang beranggotakan pemuda-pemudi Korea berwajah rupawan ini pun sukses menjadi idola para remaja di berbgai negara, termasuk Indonesia. Tidak hanya lagu-lagu Boy Band dan Girl Band Korea yang digilai, cara berpakaian para anggota para idola itu pun menjadi kiblat fashion oleh remaja negeri ini.
Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Korea Selatan hingga mampu menyulap budaya negaranya menjadi primadona di kalangan masyarakat dunia? Menjamurnya produk-produk budaya Korea di berbagai negara sebenarnya berawal pada tahun 1994 ketika presiden Korea Selatan KimYoung-sam, mendeklarasikan globalisasi sebagai visi nasional dan sasaran strategi pembangunan. Rencana ini kemudian dimanifestasikan oleh Menteri Budaya Korea waktu itu, Shin Nak-yun, dengan menetapkan abad 21 sebagai ‘century of culture’.
Pemerintah Korea selatan pun melakukan berbagai upaya dan pembenahan dalam rangka mewujudkan globalisasi budaya Korea. Mulai dari preservasi dan modernisasi warisan budaya tradisional Korea agar lebih dapat diterima publik mancanegara, mencetak tenaga professional dalam bidang seni dan budaya, memperluas fasilitas kultural di wilayah lokal, membangun pusat-pusat budaya, sampai membangun jaringan komputer dan internet di seluruh pelosok negeri untukmenunjang persebaran informasi budaya (Shim, 2006).
Apa yang dilakukan pemerintah Korea tersebut mulai membuahkan hasil manisnya dalam lima tahun. Budaya Korea mulai terekspansi ke mancanegara. Pada tahun 1999, saat krisis ekonomi yang melanda, drama Korea menjadi marak diimpor negara-negara Asia Tenggara karena merupakan satu-satunya pilihan yang paling ekonomis jika dibandingkan drama Jepang dan Hongkong (Shim, 2006). Zaman berputar, budaya Korea tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat Asia Tenggara, tetapi juga mulai merambat pada masyarakat Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Hal itu terbukti dengan munculnya Korean fans club di sana. Dalam rentang 10-15 tahun terakhir, perkembangan budaya Korea begitu menggila, meluas dan diterima publik dunia, sampai menghasilkan sebuah fenomena demam budaya Korea ditingkat global, yang kemudian dalam bahasa Korea disebut dengan istilah hallyu atau fenomena Korean Wave.
Para pebisnis dunia hiburan yang melihat fenomena demam K-Pop beramai-ramai menjadikan K-Pop sebagai kiblat dalam menggarap produk seninya dengan harapan akan laku keras di pasaran karena sesuai dengan apa yang sedang digandrungi pasar. Para pebisnis dunia hiburan tentu saja tidak salah. Mereka melihat prospek bahwa mengkarbit produk yang ke Korea-Koreaan akan jauh lebih menjual dibandingkan menciptakan produk yang tidak menjadi favorit pasar. Dan begitulah memang seharusnya pebisnis bukan? Melihat peluang dan memenuhi keinginan pasar yang kemudian mendatangkan pundi-pundi uang.
Kemudian Korean Wave pun berhasil menjerat generasi muda kita ke dalam perangkap budaya plagiasi. Gelombang budaya Korea dan segala produknya berhasil merangsang berkecambahnya para generasi muda yang membentuk Boy Band dan Girl Band ala Indonesia. Mirisnya, Boy Band dan Girl Band itu sangat mirip dengan Boy Band dan Girl Band Korea yang tengah naik daun itu. Mereka sangat identik dalam berbagai hal, mulai dari penampilan, nama Boy Band dan Girl Band, hingga lagu-lagu dan tarian yang mereka bawakan mereka pun sangat mirip.
Tidak hanya pada industri musik saja, dunia perfilman negeri ini pun mulai populer dengan budaya plagiasi. Sederet judul sinetron dan sinema pendek Indonesia tiba-tiba muncul dengan kemiripan yang luar biasa dengan drama-drama Korea yang telah populer sebelumnya
Hal yang demikian tentu mendatangkan implikasi yang juga tidak mengenakkan. Terus menerus menjadikan budaya asing sebagai orientasi dalam dunia hiburan Tanah Air secara langsung mengesampingkan serta mengacuhkan pembangunan dan pelestarian budaya negeri sendiri.
Jelas anak-anak muda zaman sekarang pasti akan lebih menggemari musik-musik yang dibawakan Suju dibandingkan musik kehidupan yang dicipta Bimbo atau Ebiet G.Ade. Lebih tahu SNSD daripada Waljinah atau Didi Kempot. Lebih senang dan paham mendengarkan lagu Korea dibandingkan lagu-lagu campursari maupun keroncong. Lebih bangga mengenakan Han Bok (pakaian tradisional Korea) dibandingkan kebaya. Jelas, karena kebudayaan Korea dianggap ‘lebih segala-galanya’ daripada kebudayaan asli Nusantara. Korea menjadi arus utama (main stream) dalam dunia hiburan Tanah Air. Tidak buruk memang, tetapi ketika orientasi yang terus menerus diciptakan hanya merujuk pada kebudayaan bangsa lain hanya untuk meraup untung yang besar, kapan kita bisa menghargai dan mencintai (apalagi melestarikan) kebudayaan lokal?
Korea telah berhasil mengokohkan ekspansi budayanya di negeri ini. Masyarakat Indonesia, terutama para generasi muda dengan suka rela menundukkan diri dengan gelombang budaya Korea dan segala produknya. Alih-alih menyadari bahwa mereka telah menjadi objek hegemoni negara asing, para generasi muda kita malah menganggap Korean Wave sebagai suatu bentuk pembaharuan budaya dan modernitas. Sehingga mereka begitu larut dan bahkan luar biasa bangga dengan budaya dan segala produk negara asing, bukan budaya negeri sendiri. Di sini, jati diri generasi muda bangsa kita telah tergerus. Tergantikan dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh negara asing itu.
Banyak hal yang unik dan khas dari kebudayaan Indonesia, tetapi rupanya mata, lidah, telinga dan hati banyak masyarakat mulai alergi pada sesuatu yang berbau ‘tradisional’ atau ‘lokal’. Hal itu karena negara kita gagal menciptakan karakter masyarakat yang bangga akan kebudayaan dan keunikan negeri ini. Indikasi terdegradasinya rasa nasionalisme dapat jelas terlihat dari salah satunya dunia hiburan yang makin sepi produk yang ‘benar-benar Indonesia’, nyep-nyepnya pertunjukan-pertunjukan budaya dan di sisi lain membludaknya masyarakat yang bangga menggunakan dan menikmati produk kebudayaan asing.
Menjadikan Korea atau negara manapun yang berhasil memoles industri seninya sebagai inspirasi memang sebuah hal yang perlu juga, namun menyeimbangkan proporsi antara budaya asing dan lokal menjadi hal yang tidak dapat diacuhkan pula. Biar bagaimanapun, sebagai anak bangsa kita memiliki tanggung jawab moril menjaga keutuhan dan kedaulatan budaya kita dari kikisan arus globalisasi yang mulai merangsek ke sendi-sendi kehidupan bangsa. Kalau tidak begitu, sungguh kasihan para pendiri bangsa dan penggiat budaya Indonesia yang telah mati-matian mencipta dan membentuk ‘rasa asli’ bangsa ini. Bisa menangis mereka dalam kuburnya.
Ironis memang ketika generasi muda yang digadang-gadangkan menjadi penerus bangsa ini telah larut dalam hegemoni budaya asing, lantas bagaimana nasib negeri ini mendatang? Apakah pada akhirnya negeri ini secara total akan berserah pasrah pada sang negara asing yang budayanya kini menjadi dewa bagi generasi muda kita? Entahlah. Biar para generasi muda kita yang  menjawab.

Source:

No comments:

Post a Comment