Tema :
Penduduk, Masyarakat dan kebudayaan
Di milenium ke dua ini, gaung film
bollywood dan telenovela tidak lagi terdengar di masyarakat kita. Tapi bukan
berarti masyarakat kita telah terbebas dari fenomena semacam itu. Karena kini
fenomena serupa kembali menjangkiti masyarakat kita. Full House, Endless Love,
Boys Before Flower, Dream High, remaja mana yang belum menonton drama-drama
itu? Suju, SNSD, Shinee, remaja mana pula yang belum pernah mendengar nama
boyband dan girlband itu?
Ya, akan susah mencari remaja yang
tidak tahu menahu tentang produk-produk budaya Korea tersebut. Karena, di abad ke
20 ini masyarakat indonesia
kembali menjadi objek ekspansi budaya negara asing. Bukan lagi India atau
negara-negara Amerika Latin, melainkan tetangga negara kita, yakni Korea
Selatan.
Indonesia menjadi salah satu negara yang
terkena demam korea
yang sedang mengglobal. Demam Korea
atau lazim disebut Korean Wave merupakan fenomena menarik di kalangan
masyarakat Indonesia
sekitar 10 tahun terakhir ini. Korean Wave mulai muncul di Indonesia sekitar tahun 2000-an lewat sebuah
drama Korea
berjudul Endless Love yang ditayangkan di salah satu televisi swasta negeri
ini. Masyarakat indonesia
yang waktu itu sedang mengalami kejenuhan dengan sinetron dalam negeri yang
membosankan, menyambut dengan antusias drama Korea ber-genre melankolis ini.
Kesuksesan Endless Love kemudian diikuti dengan rentetan judul drama Korea yang juga sukses menarik perhatian
masyarakat Indonesia.
Sebut saja, Full House, Winter Sonata, My Sassy Girl, Princes Hours, dan yang
masih fresh yakni Dream High.
Ketertarikan yang massive masyarakat
Indonesia terutama kalangan
remaja terhadap produk budaya Korea
ini ternyata tidak berhenti sampai di situ. Drama Korea
yang laris manis itu juga menyajikan lagu-lagu Korea
sebagai backsound yang tidak kalah memesona pemirsa drama Korea. Demam Korea pun
merambat pada ranah selera musik. Musik Korea
mendadak begitu digemari oleh masyarakat Indonesia,
terutama para remaja yang juga menggilai drama Korea.
Sadar bahwa musik mereka begitu
dipuja oleh para remaja negara lain, para pegiat industri musik Korea pun
menyusun proyek yang sangat cemerlang. Mereka memperkenalkan apa yang disebut
dengan Boy Band dan Girl Band Korea
pada masyarakat global, termasuk di Indonesia. Boy Band dan Girl Band
yang beranggotakan pemuda-pemudi Korea berwajah rupawan ini pun sukses menjadi
idola para remaja di berbgai negara, termasuk Indonesia. Tidak hanya lagu-lagu
Boy Band dan Girl Band Korea
yang digilai, cara berpakaian para anggota para idola itu pun menjadi kiblat
fashion oleh remaja negeri ini.
Sebenarnya apa yang telah dilakukan
oleh Korea Selatan hingga mampu menyulap budaya negaranya menjadi primadona di
kalangan masyarakat dunia? Menjamurnya produk-produk budaya Korea di berbagai
negara sebenarnya berawal pada tahun 1994 ketika presiden Korea Selatan
KimYoung-sam, mendeklarasikan globalisasi sebagai visi nasional dan sasaran
strategi pembangunan. Rencana ini kemudian dimanifestasikan oleh Menteri Budaya
Korea
waktu itu, Shin Nak-yun, dengan menetapkan abad 21 sebagai ‘century of
culture’.
Pemerintah Korea selatan pun melakukan berbagai upaya dan
pembenahan dalam rangka mewujudkan globalisasi budaya Korea. Mulai
dari preservasi dan modernisasi warisan budaya tradisional Korea agar lebih
dapat diterima publik mancanegara, mencetak tenaga professional dalam bidang
seni dan budaya, memperluas fasilitas kultural di wilayah lokal, membangun
pusat-pusat budaya, sampai membangun jaringan komputer dan internet di seluruh
pelosok negeri untukmenunjang persebaran informasi budaya (Shim, 2006).
Apa yang dilakukan pemerintah Korea tersebut mulai membuahkan hasil manisnya
dalam lima
tahun. Budaya Korea
mulai terekspansi ke mancanegara. Pada tahun 1999, saat krisis ekonomi yang
melanda, drama Korea menjadi marak diimpor negara-negara Asia Tenggara karena
merupakan satu-satunya pilihan yang paling ekonomis jika dibandingkan drama
Jepang dan Hongkong (Shim, 2006). Zaman berputar, budaya Korea tidak
hanya menjadi konsumsi masyarakat Asia Tenggara, tetapi juga mulai merambat
pada masyarakat Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Hal itu
terbukti dengan munculnya Korean fans club di sana. Dalam rentang 10-15 tahun terakhir,
perkembangan budaya Korea begitu menggila, meluas dan diterima publik dunia,
sampai menghasilkan sebuah fenomena demam budaya Korea ditingkat global, yang
kemudian dalam bahasa Korea disebut dengan istilah hallyu atau fenomena Korean
Wave.
Para pebisnis dunia hiburan yang melihat
fenomena demam K-Pop beramai-ramai menjadikan K-Pop sebagai kiblat dalam
menggarap produk seninya dengan harapan akan laku keras di pasaran karena
sesuai dengan apa yang sedang digandrungi pasar. Para
pebisnis dunia hiburan tentu saja tidak salah. Mereka melihat prospek bahwa
mengkarbit produk yang ke Korea-Koreaan akan jauh lebih menjual dibandingkan
menciptakan produk yang tidak menjadi favorit pasar. Dan begitulah memang
seharusnya pebisnis bukan? Melihat peluang dan memenuhi keinginan pasar yang
kemudian mendatangkan pundi-pundi uang.
Kemudian Korean Wave pun berhasil
menjerat generasi muda kita ke dalam perangkap budaya plagiasi. Gelombang
budaya Korea dan segala
produknya berhasil merangsang berkecambahnya para generasi muda yang membentuk
Boy Band dan Girl Band ala Indonesia.
Mirisnya, Boy Band dan Girl Band itu sangat mirip dengan Boy Band dan Girl Band
Korea yang tengah naik daun itu. Mereka sangat identik dalam berbagai hal,
mulai dari penampilan, nama Boy Band dan Girl Band, hingga lagu-lagu dan tarian
yang mereka bawakan mereka pun sangat mirip.
Tidak hanya pada industri musik
saja, dunia perfilman negeri ini pun mulai populer dengan budaya plagiasi.
Sederet judul sinetron dan sinema pendek Indonesia
tiba-tiba muncul dengan kemiripan yang luar biasa dengan drama-drama Korea yang
telah populer sebelumnya
Hal yang demikian tentu mendatangkan
implikasi yang juga tidak mengenakkan. Terus menerus menjadikan budaya asing
sebagai orientasi dalam dunia hiburan Tanah Air secara langsung mengesampingkan
serta mengacuhkan pembangunan dan pelestarian budaya negeri sendiri.
Jelas anak-anak muda zaman sekarang
pasti akan lebih menggemari musik-musik yang dibawakan Suju dibandingkan musik
kehidupan yang dicipta Bimbo atau Ebiet G.Ade. Lebih tahu SNSD daripada
Waljinah atau Didi Kempot. Lebih senang dan paham mendengarkan lagu Korea
dibandingkan lagu-lagu campursari maupun keroncong. Lebih bangga mengenakan Han
Bok (pakaian tradisional Korea)
dibandingkan kebaya. Jelas, karena kebudayaan Korea dianggap ‘lebih
segala-galanya’ daripada kebudayaan asli Nusantara. Korea menjadi arus utama (main
stream) dalam dunia hiburan Tanah Air. Tidak buruk memang, tetapi ketika
orientasi yang terus menerus diciptakan hanya merujuk pada kebudayaan bangsa
lain hanya untuk meraup untung yang besar, kapan kita bisa menghargai dan
mencintai (apalagi melestarikan) kebudayaan lokal?
Korea telah berhasil mengokohkan ekspansi
budayanya di negeri ini. Masyarakat Indonesia,
terutama para generasi muda dengan suka rela menundukkan diri dengan gelombang
budaya Korea
dan segala produknya. Alih-alih menyadari bahwa mereka telah menjadi objek
hegemoni negara asing, para generasi muda kita malah menganggap Korean Wave
sebagai suatu bentuk pembaharuan budaya dan modernitas. Sehingga mereka begitu
larut dan bahkan luar biasa bangga dengan budaya dan segala produk negara
asing, bukan budaya negeri sendiri. Di sini, jati diri generasi muda bangsa
kita telah tergerus. Tergantikan dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh negara
asing itu.
Banyak hal yang unik dan khas dari kebudayaan
Indonesia, tetapi rupanya mata, lidah, telinga dan hati banyak masyarakat mulai
alergi pada sesuatu yang berbau ‘tradisional’ atau ‘lokal’. Hal itu karena
negara kita gagal menciptakan karakter masyarakat yang bangga akan kebudayaan
dan keunikan negeri ini. Indikasi terdegradasinya rasa nasionalisme dapat jelas
terlihat dari salah satunya dunia hiburan yang makin sepi produk yang
‘benar-benar Indonesia’,
nyep-nyepnya pertunjukan-pertunjukan budaya dan di sisi lain membludaknya
masyarakat yang bangga menggunakan dan menikmati produk kebudayaan asing.
Menjadikan Korea atau
negara manapun yang berhasil memoles industri seninya sebagai inspirasi memang
sebuah hal yang perlu juga, namun menyeimbangkan proporsi antara budaya asing
dan lokal menjadi hal yang tidak dapat diacuhkan pula. Biar bagaimanapun,
sebagai anak bangsa kita memiliki tanggung jawab moril menjaga keutuhan dan
kedaulatan budaya kita dari kikisan arus globalisasi yang mulai merangsek ke
sendi-sendi kehidupan bangsa. Kalau tidak begitu, sungguh kasihan para pendiri
bangsa dan penggiat budaya Indonesia
yang telah mati-matian mencipta dan membentuk ‘rasa asli’ bangsa ini. Bisa
menangis mereka dalam kuburnya.
Ironis memang
ketika generasi muda yang digadang-gadangkan menjadi penerus bangsa ini telah
larut dalam hegemoni budaya asing, lantas bagaimana nasib negeri ini mendatang?
Apakah pada akhirnya
negeri ini secara total akan berserah pasrah pada sang negara asing yang
budayanya kini menjadi dewa bagi generasi muda kita? Entahlah. Biar
para generasi muda kita yang menjawab.
Source:
No comments:
Post a Comment