Tema: Individu,
Keluarga dan Masyarakat
Remaja adalah
masa-masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa awal. Pada masa itu banyak perubahan yang
terjadi pada diri remaja, mulai dari perubahan fisik, psikologis, dan perkembangan
sosial,. Hal ini menjadi masa remaja sering disebut masa “kritis”. Artinya masa
remaja menjadi masa yang labil, penuh gejolak; dan cenderung mudah terbawa
arus. Selain itu, remaja mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Siapakah
saya?pertanyaan seperti sering muncul karena remaja sedang mengalami masa
transisi dari anak-anak ke dewasa awal. Bila remaja tidak dapat meyesuaikan,
maka ia akan sulit menemukan identitas dirinya. Masa remaja
merupakan masa pencarian identitas diri, bila remaja gagal, maka ia akan
mengalami kekaburan identitas. Lalu bagaimana proses pencarian identitas remaja? salah satunya dengan
mulai berinteraksi dengan kelompok sebaya.
Menurut penelitian, remaja yang
bergabung dengan kelompok informal maksudnya di luar sekolah (tim sepakbola,
band, pramuka dan sebagainya) akan memunculkan rasa keinginan untuk memiliki
dan status social. Bergabungnya remaja pada suatu kelompok akan membuat remaja
lebih banyak belajar dari orang lain, bagaiamana bertingkahlaku, bekerjasama
dengan orang lain dan memahami antar sesama. Itu beberapa keuntungan didapati
remaja ketika bergabung pada suatu kelompok. Namun ada bebarapa dampak
negatifnya. Salah satunya adalah nilai-nilai negatif yang dianut kelompok.
Ketika remaja bergabung dengan suatu kelompok, maka konsekuensinya remaja harus
mengikuti apa yang disepakati kelompoknya. Hal ini dilakukan karena berkaitan
dengan penerimaan sosial (social acceptance) pada kelompok. Dengan demikian
remaja lebih suka ‘mengadopsi’ nilai-nilai dari peer group daripada orangtua.
Kadang-kadang nilai-nilai yang dianut remaja dari kelompoknya bertentangan
dengan nilai yang ada di keluarga. Bahkan bisa terjadi konflik antara remaja
dengan orangtua. Benar menurut kelompoknya belum tentu benar menurut masyarakat
atau keluarga. Di sinilah peran keluarga menjadi penting. Bagaimana orangtua
dapat menanamkan nilai-nilai yang baik pada remaja. Selain itu orangtua harus
menjalin komunikasi yang positif. Dengan itu, diharapkan nilai-nilai moral yang
diajarkan orangtua kepada remaja dapat dipahami dan diterima. Lalu timbul
pertanyaan, bagaimana peran keluarga dalam perkembangan moral remaja? keluarga
yang seperti apa yang sukses dalam menyampaikan nilai-nilai moral yang baik?.
Moral adalah hal yang selalu mengacu
pada baik buruknya manusia. sebagai manusia, sehingga bidang moral adalah
bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Moral
adalah suatu nilai-nilai yang yang berlaku di suatu wilayah tertentu Jadi
pengertian moral dapat diartikan sebagai suatu adat istiadat, kebiasaan,
peraturan atau tata cara kehidupan dalam suatu masyarakat yang berhubungan
dengan baik dan buruknya tingkah laku manusia. Nilai moral yang berkembang di
suatu masyarakat tentulah berbeda-beda, susuai dengan yang telah disepakati
bersama. Moral bersifat relatif Artinya, nilai moral adalah suatu nilai yang
ditetapkan secara kultural maupun subkultural secara tidak pasti.. Dengan
demikian setiap orang mempunyai “kebebasan” dalam memahami dan
menginternalisasi nilai moral yang berkembang pada suatu masyarakat. Nilai
moral yang berkembang di masyarakat dapat saja berubah karena pengaruh budaya
dari luar, teknologi maupun ideologi. Hal semacam inilah yang menjadikan
seorang reamaja menyimpang dari nilai-nilai moral yang ada.
Perkembangan
moral sebenarnya telah berlangsung pada masa kanak-kanak. Namun pada saat remaja akan
mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif dan minat
sosialnya. Yang membedakan antara remaja dengan anak kecil, yaitu :
- Remaja lebih sensitif terhadap pandangan dan harapan masyarakat. Remaja sering mementingkan ‘reputasi’ dirinya. Selain itu remaja lebih dituntut untuk mewujudkan harapan dan tanggungjawab dari lingkungan. Hal tersebut digunakan untuk mewujudkan reputasinya. Yang ujung ada keinginan dalam remaja untuk dapat diterima dan dihargai secara sosial dalam suatu lingkungan.
- Ideologi. Remaja mulai senang dengan hal-hal yang bersifat filosofi, ideology, aliran-aliran. Mereka terkadang mulai mengadopsi hal tersebut sebagai pandangan, pendapat dan kepercayaan.
Ada dua hal
yang bisa mempengaruhi perkembangan moral remaja, yaitu:
1. Perkembangan kognitif atau kemampuan
berpikir, masa remaja masuk pada tahap pascakonvensional. Pada masa ini remaja sudah mampu
berpikir secara induksi-deduksi, sudah mampu menghadapi beberapa masalah. Remaja
sudah mampu mengkombinasikan dan memecari solusi permasalahan. Perkembangan
kognitif pada remaja meliputi kemampuan berpikir secara rasional dan penalaran
secara efektif, sehingga remaja secara relatif telah mampu membuat keputusan
sendiri. Kemampuan operasional kognitif serta keterampilan perspektif abstrak
akan mempengaruhi pencapaian prinsip moralitas (Helwig dalam multahada, 2005).
2. Interaksi sosial. Kematangan moral tidak hanya ditentukan oleh kematangan berpikir saja tetapi perlu didukung oleh kematangan lainnya, salah satunya kematangan sosial. Pada saat remaja, keinginan untuk berinteraksi dengan teman-teman sudah mulai tumbuh. Orentasinya tidak lagi ke dalam (keluarga ) tetapi lebih ke luar keluarga. Dengan berinteraksi dengan teman-teman sebaya, orang dewasa dan masyarakat, maka remaja mulai belajar banyak hal. Seperti perilaku tolong-menolong, bekerjasama, empati, saling memahami dan sebagainya. Seseorang dapat belajar dari cara mengamati perilaku orang lain. Remaja mulai membandingkan dirinya dengan orang lain baik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Setelah itu remaja baru bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya.
2. Interaksi sosial. Kematangan moral tidak hanya ditentukan oleh kematangan berpikir saja tetapi perlu didukung oleh kematangan lainnya, salah satunya kematangan sosial. Pada saat remaja, keinginan untuk berinteraksi dengan teman-teman sudah mulai tumbuh. Orentasinya tidak lagi ke dalam (keluarga ) tetapi lebih ke luar keluarga. Dengan berinteraksi dengan teman-teman sebaya, orang dewasa dan masyarakat, maka remaja mulai belajar banyak hal. Seperti perilaku tolong-menolong, bekerjasama, empati, saling memahami dan sebagainya. Seseorang dapat belajar dari cara mengamati perilaku orang lain. Remaja mulai membandingkan dirinya dengan orang lain baik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Setelah itu remaja baru bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya.
Peran keluarga dan pembentukan
moral
Keluarga
merupakan satuan terkecil dari sistem social yang ada di masyarakat. Peran keluarga sangat penting bagi
perkembangan remaja. Menurut penelitian Mandara dan Murray (2000) keluarga yang berperan baik
dapat meningkatkan harga diri (self-esteem) pada remaja. Tidak hanya hanya itu,
keluarga juga berperan dalam hal pendidikan, khusus pendidikan pra sekolah.
Pada saat masih kanak-kanak keluarga yang mengajarkan nilai-nilai moral, agama,
dan bagaimana seharusnya berperilaku. Peran keluarga sangat banyak,
yaitu sosialisasi pendidikan, reproduksi, perlindungan dan keselamatan, kontrol
sosial, kebutuhan psikologis, agama dan rekreasi. Kemampuan keluarga dalam
proses pembentukan moral remaja dapat dilihat dari tiga elemen, yaitu kedekatan
keluarga (cohesion familiy), adaptasi, dan komunikasi.
Ada hubungan
signifikan antara proses sosialisasi dalam kelurga dengan berpikir moral (moral
thaought) pada remaja. Ada tiga elemen yang berperan dalam proses perkembangan
berpikir moral.
- Pertama , remaja yang mempunyai hubungan baik atau
kedekatan dengan keluarga, akan mempunyai berpikir moral yang baik daripada
remaja yang kurang mampu berhubungan baik dengan keluarga. Kedekatan keluarga mempunyai
hubungan dengan penilaian moral. Remaja yang menerima kehangatan keluarga
cenderung akan mudah dalam menerima nlai-nilai moral dari kelurganya. Kedekatan
keluarga dilihat dari keterikatan yang terjadi antar setiap anggota keluarga. Ukurannya
dilihat dari keterikatan emosional, batasan, waktu, teman, pengambilan
keputusan, minat, dan rekreasi.
- Kedua, adalah adaptasi. Remaja yang mengalami proses adapatasi yang baik dalam keluarga akan mempunyai pengaruh signifikan pada perkembangan moral daripada remaja yang tidak mampu berdaptasi di keluarga. Hasil ini membuktikan bahwa proses adaptasi remaja di keluarga mempunyai hubungan dengan berpikir moral (moral thaought ) remaja. Adaptasi keluarga adalah kemampuan sistem keluarga untuk mengubah struktur kekuasaan ( asertivitas, kontrol, dan disiplin), gaya negosiasi, hubungan dengan peraturan dalam merespon situasi dan perkembangan stress.
- Ketiga adalah komunikasi. Remaja yang mempunyai komunikasi positif dengan keluarga terutama orangtua, akan mempunyai peran yang besar dalam pembentukan berpikir moral (moral thaought) daripada remaja yang mempunyai komunikasi negatif. Kemampuan positif dalam keluarga dapat dilihat dari kemampuan remaja untuk berkomunikasi dengan orangtuanya secara baik dan demokratis sehingga nilai-nilai moral dari orangtua dapat diinternalisasi secara baik oleh remaja.
- Kedua, adalah adaptasi. Remaja yang mengalami proses adapatasi yang baik dalam keluarga akan mempunyai pengaruh signifikan pada perkembangan moral daripada remaja yang tidak mampu berdaptasi di keluarga. Hasil ini membuktikan bahwa proses adaptasi remaja di keluarga mempunyai hubungan dengan berpikir moral (moral thaought ) remaja. Adaptasi keluarga adalah kemampuan sistem keluarga untuk mengubah struktur kekuasaan ( asertivitas, kontrol, dan disiplin), gaya negosiasi, hubungan dengan peraturan dalam merespon situasi dan perkembangan stress.
- Ketiga adalah komunikasi. Remaja yang mempunyai komunikasi positif dengan keluarga terutama orangtua, akan mempunyai peran yang besar dalam pembentukan berpikir moral (moral thaought) daripada remaja yang mempunyai komunikasi negatif. Kemampuan positif dalam keluarga dapat dilihat dari kemampuan remaja untuk berkomunikasi dengan orangtuanya secara baik dan demokratis sehingga nilai-nilai moral dari orangtua dapat diinternalisasi secara baik oleh remaja.
Komunikasi yang
baik akan menciptakan hubungan yang baik pula, dan juga menciptakan saling
memahami akan makna atau arti dari pesan yang disampaika. Remaja yang mengalami komunikasi
negatif cenderung tidak ingin mengambil nilai-nilai moral dari keluarga, tetapi
lebih mengambil nilai-nilai moral dari luar lingkungan keluarga. Agama sangat
penting dalam pembentukan moral remaja. Dalam agama diajarkan bagaimana
seseorang harus berpiikir, bersikap dan berperilaku dengan orang lain.
Seseorang yang memiliki keyakinan kuat terhadap agamanya akan berusaha sekuat
mungkin untuk tidak melanggar dari ajaran agamanya. Dalam proses memberikan
nilai-nilai moral yang berasal dari agama, peran keluarga sangat penting.
keluarga harus sedini mungkin mengenalkan nilai-nilai moral yang dari agamas,
ehingga nanti setelah remaja atau dewasa sudah terbiasakan dengan nilai-nilai
moral yang baik.
Kesimpulan
Peran kelaurga
dalam mensosialisakan nilai-nilai moral kepada remaja sangat penting. Kemampuan
remaja dan orangtua dalam hal adaptasi, kedekatan dan komunikasi sangat dibutuhkan
dalam proses penyampaian nilai-nilai moral, sehingga nilai-nilai moral itu akan
mempengaruhi cara berpikir moral remaja. Lalu nilai-nilai apa yang di ajarkan
orangtua kepada remaja?salah satu sumber moral yang sangat banyak dipakai
adalah agama. Salah satu sumber moral yang penting adalah agama. Agama menjadi
pedoman bagi orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai baik terhadap anaknya.
Sosialisasi
dalam keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan moral pada remaja.
Sosialisasi dalam kelaurga dapat dilihat dari kedekatan, adaptasi, dan
komunikasi remaja dalam keluarganya. Semakin baik kedekatan, komunikasi, dan
adaptasi remaja dalam kelurga, maka nila-nilai moral yang berasal dari dalam
keluarga lebih dapat terinternalisasikan secara baik kepada remaja.
Perkembangan
moral pada masa remaja tidak hanya ditentukan oleh kematangan berpikir
(kognitif), tetapi juga ditentukan oleh kematangan social. Maksudnya kemampuan berinteraksi
dengan lingkungan sosial. Keluarga merupakan salah satu lingkungan social yang
mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan moral pada remaja. Keluarga-lah
yang pertama kali memperkenalkan nilai-nilai bagaimana seseorang harus
berperilaku terhadap orang lain.. Sekarang tergantung keluarga, bagaimana keluarga dapat mensosialisasikan
nilai-nilai moral secara baik kepada anaknya, sehingga anak dapat menerima dan
menginternalisasikan pada dirinya.
Source:
No comments:
Post a Comment