Thursday, 27 December 2012

Keluarga dan Moral Remaja


Tema: Individu, Keluarga dan Masyarakat

Remaja adalah masa-masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa awal. Pada masa itu banyak perubahan yang terjadi pada diri remaja, mulai dari perubahan fisik, psikologis, dan perkembangan sosial,. Hal ini menjadi masa remaja sering disebut masa “kritis”. Artinya masa remaja menjadi masa yang labil, penuh gejolak; dan cenderung mudah terbawa arus. Selain itu, remaja mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Siapakah saya?pertanyaan seperti sering muncul karena remaja sedang mengalami masa transisi dari anak-anak ke dewasa awal. Bila remaja tidak dapat meyesuaikan, maka ia akan sulit menemukan identitas dirinya. Masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, bila remaja gagal, maka ia akan mengalami kekaburan identitas. Lalu bagaimana proses pencarian identitas remaja? salah satunya dengan mulai berinteraksi dengan kelompok sebaya.
Menurut penelitian, remaja yang bergabung dengan kelompok informal maksudnya di luar sekolah (tim sepakbola, band, pramuka dan sebagainya) akan memunculkan rasa keinginan untuk memiliki dan status social. Bergabungnya remaja pada suatu kelompok akan membuat remaja lebih banyak belajar dari orang lain, bagaiamana bertingkahlaku, bekerjasama dengan orang lain dan memahami antar sesama. Itu beberapa keuntungan didapati remaja ketika bergabung pada suatu kelompok. Namun ada bebarapa dampak negatifnya. Salah satunya adalah nilai-nilai negatif yang dianut kelompok. Ketika remaja bergabung dengan suatu kelompok, maka konsekuensinya remaja harus mengikuti apa yang disepakati kelompoknya. Hal ini dilakukan karena berkaitan dengan penerimaan sosial (social acceptance) pada kelompok. Dengan demikian remaja lebih suka ‘mengadopsi’ nilai-nilai dari peer group daripada orangtua. Kadang-kadang nilai-nilai yang dianut remaja dari kelompoknya bertentangan dengan nilai yang ada di keluarga. Bahkan bisa terjadi konflik antara remaja dengan orangtua. Benar menurut kelompoknya belum tentu benar menurut masyarakat atau keluarga. Di sinilah peran keluarga menjadi penting. Bagaimana orangtua dapat menanamkan nilai-nilai yang baik pada remaja. Selain itu orangtua harus menjalin komunikasi yang positif. Dengan itu, diharapkan nilai-nilai moral yang diajarkan orangtua kepada remaja dapat dipahami dan diterima. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana peran keluarga dalam perkembangan moral remaja? keluarga yang seperti apa yang sukses dalam menyampaikan nilai-nilai moral yang baik?.
Moral adalah hal yang selalu mengacu pada baik buruknya manusia. sebagai manusia, sehingga bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Moral adalah suatu nilai-nilai yang yang berlaku di suatu wilayah tertentu Jadi pengertian moral dapat diartikan sebagai suatu adat istiadat, kebiasaan, peraturan atau tata cara kehidupan dalam suatu masyarakat yang berhubungan dengan baik dan buruknya tingkah laku manusia. Nilai moral yang berkembang di suatu masyarakat tentulah berbeda-beda, susuai dengan yang telah disepakati bersama. Moral bersifat relatif Artinya, nilai moral adalah suatu nilai yang ditetapkan secara kultural maupun subkultural secara tidak pasti.. Dengan demikian setiap orang mempunyai “kebebasan” dalam memahami dan menginternalisasi nilai moral yang berkembang pada suatu masyarakat. Nilai moral yang berkembang di masyarakat dapat saja berubah karena pengaruh budaya dari luar, teknologi maupun ideologi. Hal semacam inilah yang menjadikan seorang reamaja menyimpang dari nilai-nilai moral yang ada.
Perkembangan moral sebenarnya telah berlangsung pada masa kanak-kanak. Namun pada saat remaja akan mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif dan minat sosialnya. Yang membedakan antara remaja dengan anak kecil, yaitu :
  • Remaja lebih sensitif terhadap pandangan dan harapan masyarakat. Remaja sering mementingkan ‘reputasi’ dirinya. Selain itu remaja lebih dituntut untuk mewujudkan harapan dan tanggungjawab dari lingkungan. Hal tersebut digunakan untuk mewujudkan reputasinya. Yang ujung ada keinginan dalam remaja untuk dapat diterima dan dihargai secara sosial dalam suatu lingkungan.
  • Ideologi. Remaja mulai senang dengan hal-hal yang bersifat filosofi, ideology, aliran-aliran. Mereka terkadang mulai mengadopsi hal tersebut sebagai pandangan, pendapat dan kepercayaan.
Ada dua hal yang bisa mempengaruhi perkembangan moral remaja, yaitu:  
1. Perkembangan kognitif atau kemampuan berpikir, masa remaja masuk pada tahap pascakonvensional. Pada masa ini remaja sudah mampu berpikir secara induksi-deduksi, sudah mampu menghadapi beberapa masalah. Remaja sudah mampu mengkombinasikan dan memecari solusi permasalahan. Perkembangan kognitif pada remaja meliputi kemampuan berpikir secara rasional dan penalaran secara efektif, sehingga remaja secara relatif telah mampu membuat keputusan sendiri. Kemampuan operasional kognitif serta keterampilan perspektif abstrak akan mempengaruhi pencapaian prinsip moralitas (Helwig dalam multahada, 2005).
2. Interaksi sosial. Kematangan moral tidak hanya ditentukan oleh kematangan berpikir saja tetapi perlu didukung oleh kematangan lainnya, salah satunya kematangan sosial. Pada saat remaja, keinginan untuk berinteraksi dengan teman-teman sudah mulai tumbuh. Orentasinya tidak lagi ke dalam (keluarga ) tetapi lebih ke luar keluarga. Dengan berinteraksi dengan teman-teman sebaya, orang dewasa dan masyarakat, maka remaja mulai belajar banyak hal. Seperti perilaku tolong-menolong, bekerjasama, empati, saling memahami dan sebagainya. Seseorang dapat belajar dari cara mengamati perilaku orang lain. Remaja mulai membandingkan dirinya dengan orang lain baik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Setelah itu remaja baru bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya.


Peran keluarga dan pembentukan moral

Keluarga merupakan satuan terkecil dari sistem social yang ada di masyarakat. Peran keluarga sangat penting bagi perkembangan remaja. Menurut penelitian Mandara dan Murray (2000) keluarga yang berperan baik dapat meningkatkan harga diri (self-esteem) pada remaja. Tidak hanya hanya itu, keluarga juga berperan dalam hal pendidikan, khusus pendidikan pra sekolah. Pada saat masih kanak-kanak keluarga yang mengajarkan nilai-nilai moral, agama, dan bagaimana seharusnya berperilaku. Peran keluarga sangat banyak, yaitu sosialisasi pendidikan, reproduksi, perlindungan dan keselamatan, kontrol sosial, kebutuhan psikologis, agama dan rekreasi. Kemampuan keluarga dalam proses pembentukan moral remaja dapat dilihat dari tiga elemen, yaitu kedekatan keluarga (cohesion familiy), adaptasi, dan komunikasi.
Ada hubungan signifikan antara proses sosialisasi dalam kelurga dengan berpikir moral (moral thaought) pada remaja. Ada tiga elemen yang berperan dalam proses perkembangan berpikir moral.
-           Pertama , remaja yang mempunyai hubungan baik atau kedekatan dengan keluarga, akan mempunyai berpikir moral yang baik daripada remaja yang kurang mampu berhubungan baik dengan keluarga. Kedekatan keluarga mempunyai hubungan dengan penilaian moral. Remaja yang menerima kehangatan keluarga cenderung akan mudah dalam menerima nlai-nilai moral dari kelurganya. Kedekatan keluarga dilihat dari keterikatan yang terjadi antar setiap anggota keluarga. Ukurannya dilihat dari keterikatan emosional, batasan, waktu, teman, pengambilan keputusan, minat, dan rekreasi.
-           Kedua, adalah adaptasi.
Remaja yang mengalami proses adapatasi yang baik dalam keluarga akan mempunyai pengaruh signifikan pada perkembangan moral daripada remaja yang tidak mampu berdaptasi di keluarga. Hasil ini membuktikan bahwa proses adaptasi remaja di keluarga mempunyai hubungan dengan berpikir moral (moral thaought ) remaja. Adaptasi keluarga adalah kemampuan sistem keluarga untuk mengubah struktur kekuasaan ( asertivitas, kontrol, dan disiplin), gaya negosiasi, hubungan dengan peraturan dalam merespon situasi dan perkembangan stress.
-           Ketiga adalah komunikasi. Remaja yang mempunyai komunikasi positif dengan keluarga terutama orangtua, akan mempunyai peran yang besar dalam pembentukan berpikir moral (moral thaought) daripada remaja yang mempunyai komunikasi negatif. Kemampuan positif dalam keluarga dapat dilihat dari kemampuan remaja untuk berkomunikasi dengan orangtuanya secara baik dan demokratis sehingga nilai-nilai moral dari orangtua dapat diinternalisasi secara baik oleh remaja.
Komunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang baik pula, dan juga menciptakan saling memahami akan makna atau arti dari pesan yang disampaika. Remaja yang mengalami komunikasi negatif cenderung tidak ingin mengambil nilai-nilai moral dari keluarga, tetapi lebih mengambil nilai-nilai moral dari luar lingkungan keluarga. Agama sangat penting dalam pembentukan moral remaja. Dalam agama diajarkan bagaimana seseorang harus berpiikir, bersikap dan berperilaku dengan orang lain. Seseorang yang memiliki keyakinan kuat terhadap agamanya akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak melanggar dari ajaran agamanya. Dalam proses memberikan nilai-nilai moral yang berasal dari agama, peran keluarga sangat penting. keluarga harus sedini mungkin mengenalkan nilai-nilai moral yang dari agamas, ehingga nanti setelah remaja atau dewasa sudah terbiasakan dengan nilai-nilai moral yang baik.

Kesimpulan

Peran kelaurga dalam mensosialisakan nilai-nilai moral kepada remaja sangat penting. Kemampuan remaja dan orangtua dalam hal adaptasi, kedekatan dan komunikasi sangat dibutuhkan dalam proses penyampaian nilai-nilai moral, sehingga nilai-nilai moral itu akan mempengaruhi cara berpikir moral remaja. Lalu nilai-nilai apa yang di ajarkan orangtua kepada remaja?salah satu sumber moral yang sangat banyak dipakai adalah agama. Salah satu sumber moral yang penting adalah agama. Agama menjadi pedoman bagi orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai baik terhadap anaknya.
Sosialisasi dalam keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan moral pada remaja. Sosialisasi dalam kelaurga dapat dilihat dari kedekatan, adaptasi, dan komunikasi remaja dalam keluarganya. Semakin baik kedekatan, komunikasi, dan adaptasi remaja dalam kelurga, maka nila-nilai moral yang berasal dari dalam keluarga lebih dapat terinternalisasikan secara baik kepada remaja.
Perkembangan moral pada masa remaja tidak hanya ditentukan oleh kematangan berpikir (kognitif), tetapi juga ditentukan oleh kematangan social. Maksudnya kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Keluarga merupakan salah satu lingkungan social yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan moral pada remaja. Keluarga-lah yang pertama kali memperkenalkan nilai-nilai bagaimana seseorang harus berperilaku terhadap orang lain.. Sekarang tergantung keluarga, bagaimana keluarga dapat mensosialisasikan nilai-nilai moral secara baik kepada anaknya, sehingga anak dapat menerima dan menginternalisasikan pada dirinya.


 Source:



No comments:

Post a Comment